Jumat, 10 Maret 2017

tafsir_Dakwah_tugas_mahasiswa







BAB I
PENDAHULUAN
 Di tengah-tengah memaparkan karakter orang-orang munafik yang di dalam hati mereka ada penyakitnya itu-kita menjumpai suatu isyarat tentang “setan-setan mereka” dan yang tampak dari paparan surah dan rangkaian peristiwa bahwa yang dimaksud dengan setan-setan itu adalah kaum yahudi, yang surah ini berisi serangan-serangan berat terhadap mereka sesudah itu. Adapun kisah mereka terhadap dakwah adalah sebagai berikut.
Kaum Yahudi adalah orang-orang yang pertama kali menolak dan memerangi dakwah di Madinah. Penolakan ini banyak sebabnya. Kaum Yahudi memiliki kedudukan yang istimewa di Yatsrib karena mereka adalah Ahli Kitab di antara bangsa Arab yang buta tulis baca, seperti Aus dan Khazraj di samping orang-orang musyrik Arab sendiri tidak menampakkan kecenderungan untuk memeluk agama Ahli Kitab itu. Hanya saja bangsa Arab itu menganggap kaum Yahudi itu lebih pintar dan lebih mengerti karena mereka mempunyai kitab. Kemudian di sana terdapat suatu kondisi yang mapan bagi kaum Yahudi di antara suku Aus dan Khazraj karena terjadi perpecahan dan perseteruan di antara mereka yang dalam lingkungan seperti inilah kaum Yahudi mendapatkan lahan pekerjaan.
Setelah Islam datang maka semua keistimewaan itu lepas dari mereka. Islam datang dengan membawa kitab yang membenarkan kitab yang datang sebelumnya dan menjaganya. Selanjutnya, Islam melenyapkan perpecahan yang diembus-embuskan kaum Yahudi untuk menciptakan suasana yang keruh, tipu daya, dan mengeruk keuntungan. Dari mereka semua disusunlah masyarakat muslim yang bersatu bahu-membahu dan teratur rapi yang tidak pernah ada sebelum dan sesudahnya barisan umat yang seperti itu.[1]

BAB II
AYAT-AYAT TENTANG KEWAJIBAN BERDAKWAH
1.      QS. 16 AYAT 125
a.      Tafsir Ibnu Katsir
Asbabun nuzul :
Para mufasir berbeda pendapat seputar sabab an-nuzul (latar belakang turunnya) ayat ini. Al-Wahidi menerangkan bahwa ayat ini turun setelah Rasulullah SAW. menyaksikan jenazah 70 sahabat yang syahid dalam Perang Uhud, termasuk Hamzah, paman Rasulullah. Al-Qurthubi menyatakan bahwa ayat ini turun di Makkah ketika adanya perintah kepada Rasulullah SAW, untuk melakukan gencatan senjata (muhadanah) dengan pihak Quraisy. Akan tetapi, Ibn Katsir tidak menjelaskan adanya riwayat yang menjadi sebab turunnya  ayat tersebut.
Meskipun demikian, ayat ini tetap berlaku umum untuk sasaran dakwah siapa saja, Muslim ataupun kafir, dan tidak hanya berlaku khusus sesuai dengan sabab an- nuzul-nya (andaikata ada sabab an-nuzul-nya). Sebab, ungkapan yang ada memberikan pengertian umum. Ini berdasarkan kaidah ushul. [2]

“Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Rabbmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetabui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. an-Nahl: 125)
Allah Ta’ala berfirman seraya memerintahkan Rasul-Nya, Muhammad saw. agar menyeru umat manusia dengan penuh hikmah. Ibnu Jarir mengatakan: “Yaitu apa yang telah diturunkan kepada beliau berupa al-Qur’an dan as-Sunnah serta pelajaran yang baik, yang di dalamnya berwujud larangan dan berbagai peristiwa yang disebutkan agar mereka waspada terhadap siksa Allah Ta’ala.
Firman-Nya: wa jaadilHum bil latii Hiya ahsanu (“Dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik,”) yakni, barangsiapa yang membutuhkan dialog dan tukar pikiran, maka hendaklah dilakukan dengan cara yang baik, lemah lembut, serta tutur kata yang baik. Yang demikian itu sama seperti firman Allah Ta’ala: “Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang dhalim di antara mereka,” dan ayat seterusnya. (QS. Al-‘Ankabuut: 46)
Dengan demikian, Allah Ta’ala memerintahkannya untuk berlemah lembut, sebagaimana yang Dia perintahkan kepada Musa as. dan Harun as. ketika Dia mengutus keduanya kepada Fir’aun, melalui firman-Nya: “Maka bicaralah kamu berdua dengan kata-kata yang lemah lebut. Mudah-mudahan dia ingat atau takut.” (QS. Thaahaa: 44)
Firman Allah Ta’ala: inna rabbaka Huwa a’lamu biman dlalla ‘an sabiiliHii (“Sesungguhnya Rabbmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya,” )dan ayat seterusnya. Maksudnya, Dia mengetahui siapa yang sengsara dan siapa pula yang bahagia. Hal itu telah Dia tetapkan di sisi-Nya dan telah usai pemutusannya. Serulah mereka kepada Allah Ta’ala, janganlah kamu bersedih hati atas kesesatan orang-orang di antara mereka, sebab hidayah itu bukanlah urusanmu. Tugasmu hanyalah memberi peringatan dan menyampaikan risalah, dan perhitungan-Nya adalah tugas Kami.

2.      QS. 3 ayat 164
‘’Artinya’’
Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.
Di dalam ayat ini, Allah memberitahukan kepada semua umat Rasulullah saw. bahwa diutusnya seorang nabi dari kalangan manusia kepada mereka adalah satu karunia yang sangat besar dan tak pernah tertandingi oleh kenikmatan apapun.
Rasul yang diutus kepada manusia itu mempunyai beberapa tugas. Diantaranya adalah: 1) Membacakan ayat-ayat Allah. 2) Mensucikan dari berbagi dosa dengan mengajak mereka untuk selalu bertaubat dan berhenti melakukan maksiat. 3) Mengajarkan Al-Qur`an dan Hadits.
Dengan adanya Rasul, manusia yang dulunya tersesat, memiliki faham yang salah, melakukan perbuatan-perbuatan asusila, mereka lantas mendapat pencerahan dan petunjuk kebenaran. Mereka mendapatkan cahaya hidayah, dimanasebelumnya mereka ada dalam kegelapan yang nyata. Mereka lantas tahu mana yang benar dan mana yang salah, mana yang haq mana yang bathil. Karena ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW. telah mampu mengubah kebiasaan buruk mereka, dan mampumengentaskan mereka dari segala bentuk kejahiliyyahan.
Penjelasan Ayat:
1.      Kata مَنَّ dalam al-Quran mempunyai beberapa pengertian, diantaranya adalah:
 Sejenis makanan yang turun dari langit. Seperti yang terdapat dalam surat Al-Baqarah: 57, yang berbunyi:وَأَنْزَلْنَا عَلَيْكُمُ الْمَنَّ وَالسَّلْوَى (dan Kami turunkan kepadamu "manna" dan "salwa). Manna adalah sebuah makanan yang berbentuk seperti jeli atau madu.
Memberikan karunia kepada seseorang tanpa mengharap balasan. Dalam ayat ini (164) adalah yang dimaksud dengan kata manna. Jadi maksudnya, Allah Ta’ala memberikan karunia berupa diutusnyaseorangRasul dari kalangan manusia tanpa mengharap balasan dari hamba-Nya.
2.      Mengapa dalam ayat ini hanya disebutkan orang mukmin saja? Bukankah Rasulullah saw. itu diutus sebagai rahmat bagi sekalian alam? Jawabannya adalah karena orang yang mampu menerima manfaat dari kenikmatan dan hidayah itu hanya orang mukmin. Maka disini disebutkan khusus bagi orang mukmin, sebagai bentuk penghormatan dan kemuliaan.
3.      Para ulama berbeda pendapat dalam memaknai kata (مِنْ أَنْفُسِهِمْ):
 Min anfusihim dimaksudkan dari kalangan orang Arab. Karena kita tahu bahwa Nabi Muhammad saw. diutus pertama kali di negeri Arab. Allah mengutus beliau dari kalangan Arab sehingga mereka lebih memahami apa yang disampaikan oleh beliau. Walaupun risalah beliau tidak khusus bagi orang arab.
 Min anfusihim dimaksudkan dari kalangan manusia. Allah mengutus Nabi dari golongan manusia. Bukan jin atau malaikat. Karena kalau dari golongan selain manusia, umat manusia akan kesulitan memahami apa yang disampaikan.
Ibnu Katsir (1/425) memilih pendapat yang kedua. Bahwa seorang Nabi itu dari jenis manusia. Ini ditunjukkan dalam Al-Kahfi:110: قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ. (katakanlah sesungguhnya tiada lain aku juga manusia seperti kalian, diwahyukan kepadaku bahwa Tuhan kalian hanyalah Tuhan yang Maha Esa...). Dalam ayat ini disebutkan bahwa Rasul itu sama seperti umatnya, yaitu dari kalangan manusia.
Yang membedakan hanyalah karena Rasul adalah manusia yang diberi wahyu. Ulama mengatakan Nabi Muhammad adalah basyarun walakin laisa kal basyari (manusia tetapi bukan seperti manusia biasa). Dikatakan seperti itu, karena Allah memberi banyak kemuliaan dan keistimewaan. Yaitu dengan memberi wahyu kepada beliau, diberikan sifat ma’shum (terjaga dari berbuat kesalahan). Nabi itu sama dengan kita, dengan arti sama dalam sifat manusianya seperti, makan, nikah, belanja, dll. Itu dimaksudkan supaya beliau bisa kita contoh dalam segala perbuatannya. Bila yang dikirim berasal dari golongan jin atau malaikat, maka hal tersebut akan menyusahkan manusia dalam berkomunikasi atau mencontohnya.
4.      Tugas seorang Rasul antara lain:
 يَتْلُو عَلَيْهِمْ آَيَاتِهِ kata talaa-yatlu-tilawatan mempunyai 2 makna:
a.     Membacakan ayat-ayat Allah, yaitu al-Qur`an kepada umatnya secara benar. Membaca dengan tartil sesuai dengan tajwid, makhraj dan sifat-sifat hurufnya. Dan sudah menjadi kebiasaan Rasulullah saw. tadarusan bersama dengan Jibril setahun sekali. Di tahun Rasulullah meninggal, beliau tadarusan bersama Jibril sebanyak dua kali. Hal ini dilakukan untuk menjaga keaslian al-Qur`an.
b.     Rasulullah saw. membuka pengetahuan umatnya, baik melalui bacaan al-Qur`an atau sabda beliau, disamping hukum agama, juga tentang ayat-ayat kekuasaan Allah, agar manusia mengimani-Nya dan mampu meningkatkan kualitas keimanannya.
 يُزَكِّيهِمْ artinya: dan dia mensucikan mereka. Zakka yuzakki tazkiyatan artinya membersihkan dan mensucikan. Makna asli tazkiyah adalah membersihkan dan mensucikan dari segala noda, baik dhahir maupun batin. Yang dimaksudkan dalam ayat ini adalah membersihkan dari berbagai kepercayaan-kepercayaan jahiliyah, atau pemahaman-pemahaman yang salah. Rasulullah diutus kepada umat manusia untuk meluruskan mereka dari pemahaman, pola hidup, kepercayaan, cara pikir yang tidak benar, dengan menegakkan amar ma`ruf nahi mungkar dan menyebarkan kebenaran risalah Islam.
 وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ artinya: dan dia mengajari Al-Kitab dan Al-Hikmah kepada mereka. Maksudnya adalah Rasul bertugas mentransfer (memindahkan) ilmu yang diberikan oleh Allah kepada beliau untuk umatnya. Ilmu tersebut ada di dalam Al-Qur`an dan hadits. Al-Kitab di sini maksudnya adalah Al-Qur`an. Al-Hikmah adalah Hadits. Secara umum, hikmah adalah setiap kalimat yang mengandung kebaikan dan berguna sepanjang masa (tidak lekang ditelan zaman).
3.      QS. 3 AYAT 110
‘’Artinya’’
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. Qs.3:110

1.       كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ Kamu adalah umat yang terbaik
Perkataan كُنْتُمْ berasal dari كَان berma’na keadaan, dan تُم berasal dari أنْتُم yang berarti kamu sekalian. Siapakah yang dikasud dengan أنْتُم yang berarti kamu sekalian pada ayat ini? Ibn al-Jauzi, yang menurutnya bersanadkan pada Ibn Abbas, berpendapat (1) انهم أهل بدر tentara muslim yang ikut perang Badar, (2) انهم المهاجرون al-Muhajirun (kaum muslimin yang ikut hijrah dari Mekah ke Madinah), (3) جميع الصحابة  seluruh shahabat Rasul, (4) جميع امة محمد صلى الله seluruh umat Nabi Muhammad yang beriman.
Sedangkan خَيْرَ berarti terpilih, dan terbaik. Namun seperti diungkap dalam bahasan terdahulu, kategori baik yang diistilahkan خَيْر adalah yang dianggap baik dan terpilih secara syari’ah, walau mungkin oleh sebagian manusia tidak dianggap sebagai kebikan. Pada ayat ini ditegaskan bahwa kaum muslimin itu menjadi umat terbaik, dan terpilih. Menurut sebagian ulama, yang dimaksud terbaik atau terpilih di sini, utamanya di sisi Allah SWT.
Menurut Abu Hurairah, yang dimaksud خَيْرَ أُمَّةٍ di sini adalah خير الناس للناس sebaik-baik manusia untuk manusia. Jika ayat ini dikaitkan dengan ayat sebelumnya (Qs.3:102-104), dapat difahami bahwa yang menjadi umat terpilih itu adalah yang memenuhi kriteria iman,taqwa,membela Islam,berpegang teguh pada tali Allah,berjamaah,menjaga kesatuan ukhuwah,mensyukuri ni’mat,menjauhi permusuhan,berda’wah, amar ma’ruf, nahy munkar.
2.      أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ yang dilahirkan untuk manusia,
Perkataan أُخْرِجَتْ asal artinya adalah dikeluarkan, menurut al-Jalalain adalah أُظْهِرَت ditampakkan, ditampilkan, atau dizhahirkan لِلنَّاسِ untuk manusia. Sifat ini merupakan syarat agar menjadi umat terbaik mesti tampil di hadapan manusia, eksistensinya nampak. Eksistensi tersebut tentu saja dalam memberi manfaat untuk manusia lain, bukan menjadi beban mereka. Rasulul saw. bersabda: أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ manusia yang paling dicintai Allah adalah yang paling banyak memberi manfaat bagi yang lainnya.Hr.al-Thabarani.
Redaksi lainnya berbunyi  خير الناس أنفعهم للناس Manusia paling baik adalah yang paling banyak memberikan manfaat bagi manusia lain.”Hr. al-Qadla`iy. Kehidupan manusia agar menjadi indah, menyenangkan, dan sejahtera yang disebut الْمُفْلِحُون pada ayat 104, membutuhkan manusia-manusia seperti itu. Menjadi apa pun, manusia mu`min akan menjadi yang terbaik; apa pun peran dan fungsinya maka segala yang dilakukan adalah hal-hal yang membuat orang lain, lingkungannya menjadi bahagia dan sejahtera. Peranan أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ juga berma’na tampil menjadi pemimpin dalam segala aspek kehidupan yang lebih baik.
3.      تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِmenyuruh kepada yang ma`ruf,
Keritera umat terbaik berikutnya adalah memerintah yang ma’ruf. Seperti dikemukakan pada bahasan yang lalu, peranan ini tidak mungkin bisa dilakukan oleh orang yang tidak memeiliki kekuasaan untuk memerintah.
Oleh karena itu menjadi manusia terbaik mesti memiliki kekuasaan untuk memerintah yang ma’ruf. Semakin tinggi kekuasaannya untuk amar ma’rum semakin mulia kedudukannya sebagai umat pilihan. Semakian sering beramar ma’ruf semakin tinggai derajatnya bakal diraih. Perhatikan hadits berikut:
diriwayatkan dari Darrah binti Abi Lahab, seorang laki-laki menghadap Rasul SAW tatkala berada di atas mimbar. Orang itu bertanya Wahai Rasul manusia seperti apakah yang terbaik itu? Rasul bersabda: Manusia terbaik adalah yang paling baik dalam membaca al-Qur`an, yang paling taqwa, paling bagus amar ma’ruf, paling banyak nahy munkar, dan baik baik dalam menjalin silaturahimnya. Hr. Ahmad Dan dalam riwayat lain ada tambahan أفْقهُهُم فِي دين الله paling faham dalam bidang agama Allah SWT.:

4.      وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِdan mencegah dari yang munkar,
Keriteria manusia terbaik berikutnya adalah nahy munkar, yaitu mencegah kemunkaran. Rasul SAW bersabda: barangsiapa yang melihat kemunkaran hendaklah mengubahnya dengan tangan. Jika tidak mampu maka hendaklah mengubahnya dengan lisan. Jika tidak mampu hendaklah mengubahnya dengan sikap dalam hati. Namun yang terakhir ini adalah orang yang paling lemah imannya. Hr.Msulim, Abu Daud, dan al-Tirmidzi. 
Berdasar hadits ini, orang yang paling tinggai derajat imannya adalah yang bisa memberantas kemunkaran dengan tangan, alias kekuasaannya. Orang yang tidak berdaya dalam memberantas kemunkaran, melainkan hanya dalam hati, maka paling lemah imannya. Semakin berkuasa memberantas kemunkaran, semakian tinggi dan kuat imannya. Semakian rendah kualitas dalam memberantas kemunkaran maka semakin rendah pula nilai keimanannya. Dalam riwayat lainnya, Rasul SAW bersabda:
Sesungguhnya manusia yang jika melihat kemunkaran dan tidak mencegahnya, maka Allah akan menimpakan siksaan-Nya secara keseluruhan. Hr. Ibn Abi Syaybah dan Ibn Majah. 
5.       وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ dan beriman kepada Allah.
Keriteria manusia terbaik yang laing pokok adalah beriman kepada Allah. Yang dimaksud beriman pada Allah tentu saja mencakup atas segala yang mesti diimani berdasar apa yang diajarkan-Nya. Keimanan baru dianggap benar apabila mengimani seluruh apa yang mesti diimani yaitu enam rukunnya. Dalam hadits diterangkan lebih rinci bahwa rukun iman itu adalah enam. Rasul SAW bersabda:
 iman adalah beriman pada Allah, mala`ikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, pada hari akhir dan pada taqdir baik dan buruknya. Hr. Ahmad.
Dengan demikian kepercayaan seratus prosen hanyalah kepada yang enam yang disebutkan dalam hadits ini. Tidak ada yang mesti dipercayai sepenuhnya selain pada apa yang tersirat dan tersurat pada rukun iman tersebut. Inilah perinsip pertama dan utama untuk mencapai derajat kebaikan. Itulah sebabnya ulama aqidah memberikan definsi iman dengan التَّصْدِيْق بِمَا جَاء بهِ النَّبِي صلى الله عليه وسلم membenarkan apa yang dibawa oleh nabi Muhammad SAW, yang diucapkan oleh lisan, diyakini dalam hati serta diwujudkan dalam amal perbuatan.
6.      وَلَوْ آَمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka;
Jika ahl al-Kitab itu beriman sebagaimana mestinya termasuk mengimani Rasul SAW dan ajaran yang dibawanya, maka mereka akan menjadi umat terbaik pula. Tegasnya yahudi nashrani, atau pun bani Isrta`il lainnya, saat ini tidak menjadi manusia terbaik lagi, kecuali yang telah beriman kepada enam rukunnya, menjadi muslim yang menjalankan al-Qur`an dan sunnah Rasul SAW. Jika berbagai ayat mengungkapkan bahwa Bani isra`il itu telah diangkat derajatnya di atas bangsa lain, maka jelaslah yang beriman. Sejak Rasul SAW diutus maka derajat manusia tidak dibedakan oleh ras atau keturunan mana, melainkan ditentukan oleh derajat keimanan dan ketaqwaannya. Namun sayang, kebanyakan mereka tidak mau beriman kepada Rasul SAW, maka tidak meraih derajat terbaik, sebqai mana ditegaskan pada pengunci ayat.
7.      مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik
Ada di antara ahl al-kitab yang beriman seperti di jaman Rasul SAW antara lain Abd Allah bin Salam, Asad, Usaid bin Ka’ab. Namun kebanyakan di antara mereka ada yang fasiq. Bahkan ada yang menjadi musuh Islam serta memerangi kaum muslimin. Di antara ahl al-Kitab yang sangat memusuhi Islam adalah Ka’b bin Asyraf, Huyay bin Akhthab.
4.      QS. 5 AYAT  67
’’Artinya’’
“Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika kamu tidak kerjakan (apa yang diperintahkan itu berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir”.
 (Hai Rasul, sampaikanlah) semua (yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu) dan janganlah kamu menyembunyikan sesuatupun dari pada-Nya karena takut akan mendapatkan hal-hal yang tidak diinginkan (Dan jika tidak kamu lakukkan) tidak kamu sampaikan semua yang diturunkan kepadamu itu (berarti kamu tidak menyampaikan risalah-Nya). “Risalah” dengan tunggal atau jamak, karena menyembunyikan sebagian berarti menyembunyikan semuanya (Dan Alloh memelihara kamu dari manusia) agar tidak sampai membunuhmu. Pada mulanya Rasulullah SAW itu dikawal sampai turun ayat ini, lalu sabdanya: “Pergilah karena sesungguhnya Alloh Memeliharaku’Riwayat Hakim (sesungguhnya Alloh tidak memberikan bimbingan kepada kaum yang kafir).
Dalam Tafsir Ibnu Katsir Menjelaskan
Pada awalnya Nabi merasa takut untuk menyampaikan risalah kenabian. Namun karena ada dukungan lansung dari Allah maka keberanian itu muncul. Dukungan dari Allah sebgai pihak pemberi wewenang menimbulkan semangat dan etos dakwah nabi dalam menyampaikan risalah. Nabi tidak sendirian, di belakangnya ada semangat “Agung”, ada pemberi motivasi yang sempurna yaitu Allah SWT. Begitu pun dalam proses pembelajaran harus ada keberanian, tidak ragu-ragu dalam menyampaikan materi. Sebab penyampaian materi sebagai pewarisan nilai merupakan amanat agung yang harus diberikan.
 Bukankah nabi berpesan ; “yang hadir hendaknya menyampaikan kepada yang tidak hadir” . Sehingga Allah berfirman sebagai penegasan dukungan keselamatan
وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ = Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia Imam AL-Qurtubi memperjelas dalam konteks kerisalahan nabi sebagai rasul.
Beliau mengungkapkan sebab rasul tidak berani menyampaikan risalah kenabian secara terang-terangan. Beliau menulis dalam tafsirnya :

قيل: معناه أظهر التبليغ; لأنه كان في أول الإسلام يخفيه خوفا من المشركين, ثم أمر بإظهاره في هذه الآية,وأعلمه الله أنه يعصمه من الناس

Artinya:  “baligh” menurut Imam Al-Qurtubi lebih menampakan pada proses penyampaian amanah kapada masyarakat. Karena di awal penyebaran agama Islam nabi khawatir kepada orang-orang musyrik Makkah. Kemudian Allah memerintahkan untuk menampakan kerisalahan tersebut dengan diturunkannya ayat ini. Dan Allah memberitahu kepada nabi bahwa Allah akan menjaga keselamatannya. Bahkan bila nabi tidak menyampaikan ayat, menyembunyikan risalah dan amanat tersebut maka nabi dikatakan sebagai orang yang “kadzab”, berdusta.
Kata “Baligh” dalam bahasa Arab atinya sampai, mengenai sasaran, atau mencapai tujuan. Bila dikaitkan dengan qawl (ucapan), kata balig berarti fasih, jelas maknanya, terang, tepat mengungkapkan apa yang dikehendaki. Karena itu prinsip qaulan balighan dapat diterjemahkan sebgai prinsip komunikasi yang efektif.
Komunikasi yang efektif dan efisien dapat diperoleh bila memperhatikan pertama, bila dalam pembelajaran menyesuaikan pembicaranya dengan sifat khalayak. Istilah Al-Quran “fii anfusihiim”, artinya penyampaian dengan “bahasa” masyarakat setempat. Hal yang kedua agar komunikasi dalam proses pembelajaran dapat diterima peserta didik manakala komunikator menyentuh otak atau akal juga hatinya sekaligus. Tidak jarang di sela khotbahnya nabi berhenti untuk bertanya atau memberi kesempatan yang hadir untuk bertanya, terjadilah dialog. Khutbah nabi pendek tetapi padat penuh makna sehingga menyentuh dalam setiap sanubari pendengarnya.
Menurut beberapa hadis yang diriwayatkan oleh beberapa sahabat Nabi SAW, seperti Ibnu Abbas, Abu Said Al-Khudri, Al-Barra’ bin Azib, Abu Hurairah, dan lainnya, ayat ini turun setelah haji Wada’ di Ghadir Khum sehubungan dengan perintah memproklarnirkan kepemimpinan (wilayah) Ali bin Abi Thalib a.s.
Firman Allah pada ayat itu merupakan perintah Allah kepada Rasulullah agar melaksanakan tabligh, yang sekaligus merupakan perintah kepada umatnya. Berkaitan dengan kewajiban tabligh ini, terdapat beberapa hadits Rasulullah saw, antara lain:

بلّغواعنى ولو آية

Sampaikanlah apa-apa dari aku, walaupun hanya satu ayat






BAB III
PENUTUP
A.    Keimpulan
Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Rabbmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetabui orang-orang yang mendapat petunjuk.
Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.
“Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika kamu tidak kerjakan (apa yang diperintahkan itu berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir”.




DAFTAR PUSTAKA
Sayyid, Quthb,2000 “Tafsir Fi Zhilalil Qur’an” (Di bawah naungan Al-Qur’an Jilid 1) Jakarta, Gema Insani
Abdullah, 2004 ‘’tafsir ibnu katsir’’ jilid 2 , Bogor: Pustaka imam Asy-syafi’i




[1] Sayyid, Quthb, “Tafsir Fi Zhilalil Qur’an” (Di bawah naungan Al-Qur’an Jilid 1) Jakarta, Gema Insani, 2000, hal 49-50.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar