BAB I
PENDAHULUAN
Di
tengah-tengah memaparkan karakter orang-orang munafik yang di dalam hati mereka
ada penyakitnya itu-kita menjumpai suatu isyarat tentang “setan-setan mereka”
dan yang tampak dari paparan surah dan rangkaian peristiwa bahwa yang dimaksud
dengan setan-setan itu adalah kaum yahudi, yang surah ini berisi
serangan-serangan berat terhadap mereka sesudah itu. Adapun kisah mereka
terhadap dakwah adalah sebagai berikut.
Kaum Yahudi adalah orang-orang yang pertama kali
menolak dan memerangi dakwah di Madinah. Penolakan ini banyak sebabnya. Kaum
Yahudi memiliki kedudukan yang istimewa di Yatsrib karena mereka adalah Ahli
Kitab di antara bangsa Arab yang buta tulis baca, seperti Aus dan Khazraj di
samping orang-orang musyrik Arab sendiri tidak menampakkan kecenderungan untuk
memeluk agama Ahli Kitab itu. Hanya saja bangsa Arab itu menganggap kaum Yahudi
itu lebih pintar dan lebih mengerti karena mereka mempunyai kitab. Kemudian di
sana terdapat suatu kondisi yang mapan bagi kaum Yahudi di antara suku Aus dan
Khazraj karena terjadi perpecahan dan perseteruan di antara mereka yang dalam
lingkungan seperti inilah kaum Yahudi mendapatkan lahan pekerjaan.
Setelah Islam datang maka semua keistimewaan itu lepas
dari mereka. Islam datang dengan membawa kitab yang membenarkan kitab yang
datang sebelumnya dan menjaganya. Selanjutnya, Islam melenyapkan perpecahan
yang diembus-embuskan kaum Yahudi untuk menciptakan suasana yang keruh, tipu
daya, dan mengeruk keuntungan. Dari mereka semua disusunlah masyarakat muslim
yang bersatu bahu-membahu dan teratur rapi yang tidak pernah ada sebelum dan
sesudahnya barisan umat yang seperti itu.[1]
BAB
II
AYAT-AYAT
TENTANG KEWAJIBAN BERDAKWAH
1.
QS.
16 AYAT 125
a. Tafsir Ibnu Katsir
Asbabun nuzul :
Para mufasir
berbeda pendapat seputar sabab an-nuzul (latar
belakang turunnya) ayat ini. Al-Wahidi menerangkan bahwa ayat ini turun setelah
Rasulullah SAW. menyaksikan jenazah 70 sahabat yang syahid dalam Perang Uhud,
termasuk Hamzah, paman Rasulullah. Al-Qurthubi menyatakan bahwa ayat ini turun
di Makkah ketika adanya perintah kepada Rasulullah SAW, untuk melakukan
gencatan senjata (muhadanah) dengan pihak Quraisy.
Akan tetapi, Ibn Katsir tidak menjelaskan adanya riwayat yang menjadi sebab
turunnya ayat tersebut.
Meskipun
demikian, ayat ini tetap berlaku umum untuk sasaran dakwah siapa saja, Muslim
ataupun kafir, dan tidak hanya berlaku khusus sesuai dengan sabab an- nuzul-nya (andaikata ada sabab an-nuzul-nya). Sebab, ungkapan yang ada
memberikan pengertian umum. Ini berdasarkan kaidah ushul. [2]
“Serulah
(manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan
bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Rabbmu, Dialah yang
lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih
mengetabui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS.
an-Nahl: 125)
Allah Ta’ala
berfirman seraya memerintahkan Rasul-Nya, Muhammad saw. agar menyeru umat
manusia dengan penuh hikmah. Ibnu Jarir mengatakan: “Yaitu apa yang telah
diturunkan kepada beliau berupa al-Qur’an dan as-Sunnah serta pelajaran yang
baik, yang di dalamnya berwujud larangan dan berbagai peristiwa yang disebutkan
agar mereka waspada terhadap siksa Allah Ta’ala.
Firman-Nya:
wa jaadilHum bil latii Hiya ahsanu (“Dan bantahlah mereka dengan cara yang
lebih baik,”) yakni, barangsiapa yang membutuhkan dialog dan tukar pikiran,
maka hendaklah dilakukan dengan cara yang baik, lemah lembut, serta tutur kata
yang baik. Yang demikian itu sama seperti firman Allah Ta’ala: “Dan janganlah
kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik,
kecuali dengan orang-orang dhalim di antara mereka,” dan ayat seterusnya. (QS.
Al-‘Ankabuut: 46)
Dengan
demikian, Allah Ta’ala memerintahkannya untuk berlemah lembut, sebagaimana yang
Dia perintahkan kepada Musa as. dan Harun as. ketika Dia mengutus keduanya
kepada Fir’aun, melalui firman-Nya: “Maka bicaralah kamu berdua dengan
kata-kata yang lemah lebut. Mudah-mudahan dia ingat atau takut.” (QS. Thaahaa:
44)
Firman Allah
Ta’ala: inna rabbaka Huwa a’lamu biman dlalla ‘an sabiiliHii (“Sesungguhnya
Rabbmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari
jalan-Nya,” )dan ayat seterusnya. Maksudnya, Dia mengetahui siapa yang sengsara
dan siapa pula yang bahagia. Hal itu telah Dia tetapkan di sisi-Nya dan telah
usai pemutusannya. Serulah mereka kepada Allah Ta’ala, janganlah kamu bersedih
hati atas kesesatan orang-orang di antara mereka, sebab hidayah itu bukanlah
urusanmu. Tugasmu hanyalah memberi peringatan dan menyampaikan risalah, dan
perhitungan-Nya adalah tugas Kami.
2.
QS. 3 ayat
164
‘’Artinya’’
Sungguh
Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah
mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang
membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan mereka, dan mengajarkan
kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum itu, mereka
adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.
Di dalam ayat ini, Allah memberitahukan kepada semua
umat Rasulullah saw. bahwa diutusnya seorang nabi dari kalangan manusia kepada
mereka adalah satu karunia yang sangat besar dan tak pernah tertandingi oleh
kenikmatan apapun.
Rasul yang diutus kepada manusia itu mempunyai
beberapa tugas. Diantaranya adalah: 1) Membacakan ayat-ayat Allah. 2) Mensucikan
dari berbagi dosa dengan mengajak mereka untuk selalu bertaubat dan
berhenti melakukan maksiat. 3) Mengajarkan Al-Qur`an dan Hadits.
Dengan adanya Rasul, manusia yang dulunya tersesat,
memiliki faham yang salah, melakukan perbuatan-perbuatan asusila, mereka lantas
mendapat pencerahan dan petunjuk kebenaran. Mereka mendapatkan
cahaya hidayah, dimanasebelumnya mereka ada dalam kegelapan yang
nyata. Mereka lantas tahu mana yang benar dan mana yang salah, mana yang
haq mana yang bathil. Karena ajaran Islam yang
dibawa oleh Rasulullah SAW. telah mampu mengubah kebiasaan
buruk mereka, dan mampumengentaskan mereka dari
segala bentuk kejahiliyyahan.
Penjelasan Ayat:
1.
Kata مَنَّ dalam al-Quran
mempunyai beberapa pengertian, diantaranya adalah:
Sejenis makanan yang turun dari langit. Seperti
yang terdapat dalam surat Al-Baqarah: 57, yang berbunyi:وَأَنْزَلْنَا عَلَيْكُمُ الْمَنَّ وَالسَّلْوَى (dan
Kami turunkan kepadamu "manna" dan "salwa). Manna adalah
sebuah makanan yang berbentuk seperti jeli atau madu.
Memberikan karunia kepada seseorang tanpa mengharap
balasan. Dalam ayat ini (164) adalah yang dimaksud dengan kata manna.
Jadi maksudnya, Allah Ta’ala memberikan karunia berupa diutusnyaseorangRasul
dari kalangan manusia tanpa mengharap balasan dari hamba-Nya.
2.
Mengapa dalam ayat ini hanya
disebutkan orang mukmin saja? Bukankah Rasulullah saw. itu diutus sebagai
rahmat bagi sekalian alam? Jawabannya adalah karena orang yang mampu menerima
manfaat dari kenikmatan dan hidayah itu hanya orang mukmin. Maka disini
disebutkan khusus bagi orang mukmin, sebagai bentuk penghormatan dan kemuliaan.
3.
Para ulama
berbeda pendapat dalam memaknai kata (مِنْ
أَنْفُسِهِمْ):
Min anfusihim dimaksudkan dari
kalangan orang Arab. Karena kita tahu bahwa Nabi Muhammad saw. diutus pertama
kali di negeri Arab. Allah mengutus beliau dari kalangan Arab sehingga mereka
lebih memahami apa yang disampaikan oleh beliau. Walaupun risalah beliau tidak
khusus bagi orang arab.
Min anfusihim dimaksudkan dari
kalangan manusia. Allah mengutus Nabi dari golongan manusia. Bukan jin atau
malaikat. Karena kalau dari golongan selain manusia, umat manusia akan
kesulitan memahami apa yang disampaikan.
Ibnu Katsir (1/425) memilih pendapat yang
kedua. Bahwa seorang Nabi itu dari jenis manusia. Ini
ditunjukkan dalam Al-Kahfi:110: قُلْ إِنَّمَا
أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ. (katakanlah
sesungguhnya tiada lain aku juga manusia seperti kalian, diwahyukan kepadaku
bahwa Tuhan kalian hanyalah Tuhan yang Maha Esa...). Dalam ayat ini
disebutkan bahwa Rasul itu sama seperti umatnya, yaitu dari kalangan manusia.
Yang membedakan hanyalah karena Rasul adalah manusia
yang diberi wahyu. Ulama mengatakan Nabi Muhammad adalah basyarun
walakin laisa kal basyari (manusia tetapi bukan seperti manusia
biasa). Dikatakan seperti itu, karena Allah memberi banyak kemuliaan dan
keistimewaan. Yaitu dengan memberi wahyu kepada beliau, diberikan sifat ma’shum
(terjaga dari berbuat kesalahan). Nabi itu sama dengan kita, dengan arti sama
dalam sifat manusianya seperti, makan, nikah, belanja, dll. Itu dimaksudkan
supaya beliau bisa kita contoh dalam segala perbuatannya. Bila yang dikirim
berasal dari golongan jin atau malaikat, maka hal tersebut akan menyusahkan
manusia dalam berkomunikasi atau mencontohnya.
4.
Tugas seorang
Rasul antara lain:
يَتْلُو عَلَيْهِمْ
آَيَاتِهِ kata talaa-yatlu-tilawatan mempunyai 2 makna:
a. Membacakan ayat-ayat
Allah, yaitu al-Qur`an kepada umatnya secara benar. Membaca dengan tartil sesuai
dengan tajwid, makhraj dan sifat-sifat hurufnya. Dan sudah menjadi kebiasaan
Rasulullah saw. tadarusan bersama dengan Jibril setahun sekali. Di tahun
Rasulullah meninggal, beliau tadarusan bersama Jibril sebanyak dua kali. Hal
ini dilakukan untuk menjaga keaslian al-Qur`an.
b. Rasulullah saw.
membuka pengetahuan umatnya, baik melalui bacaan al-Qur`an atau sabda beliau,
disamping hukum agama, juga tentang ayat-ayat kekuasaan Allah, agar manusia
mengimani-Nya dan mampu meningkatkan kualitas keimanannya.
يُزَكِّيهِمْ artinya:
dan dia mensucikan mereka. Zakka yuzakki tazkiyatan artinya
membersihkan dan mensucikan. Makna asli tazkiyah adalah membersihkan dan
mensucikan dari segala noda, baik dhahir maupun batin. Yang dimaksudkan dalam
ayat ini adalah membersihkan dari berbagai kepercayaan-kepercayaan jahiliyah,
atau pemahaman-pemahaman yang salah. Rasulullah diutus kepada umat manusia
untuk meluruskan mereka dari pemahaman, pola hidup, kepercayaan, cara pikir
yang tidak benar, dengan menegakkan amar ma`ruf nahi mungkar dan menyebarkan
kebenaran risalah Islam.
وَيُعَلِّمُهُمُ
الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ artinya: dan dia mengajari Al-Kitab
dan Al-Hikmah kepada mereka. Maksudnya adalah Rasul bertugas mentransfer
(memindahkan) ilmu yang diberikan oleh Allah kepada beliau untuk umatnya.
Ilmu tersebut ada di dalam Al-Qur`an dan hadits. Al-Kitab di sini maksudnya
adalah Al-Qur`an. Al-Hikmah adalah Hadits. Secara umum, hikmah adalah setiap
kalimat yang mengandung kebaikan dan berguna sepanjang masa (tidak lekang ditelan zaman).
3. QS. 3 AYAT
110
‘’Artinya’’
Kamu adalah umat yang terbaik
yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari
yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah
itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan
mereka adalah orang-orang yang fasik. Qs.3:110
1.
كُنْتُمْ خَيْرَ
أُمَّةٍ Kamu adalah umat yang terbaik
Perkataan كُنْتُمْ
berasal dari كَان berma’na keadaan, dan تُم berasal dari أنْتُم yang berarti
kamu sekalian. Siapakah yang dikasud dengan أنْتُم yang berarti kamu sekalian
pada ayat ini? Ibn al-Jauzi, yang menurutnya bersanadkan pada Ibn Abbas,
berpendapat (1) انهم أهل بدر tentara muslim yang ikut perang Badar, (2) انهم
المهاجرون al-Muhajirun (kaum muslimin yang ikut hijrah dari Mekah ke Madinah),
(3) جميع الصحابة seluruh shahabat Rasul, (4) جميع امة محمد صلى الله
seluruh umat Nabi Muhammad yang beriman.
Sedangkan خَيْرَ
berarti terpilih, dan terbaik. Namun seperti diungkap dalam bahasan terdahulu,
kategori baik yang diistilahkan خَيْر adalah yang dianggap baik dan terpilih
secara syari’ah, walau mungkin oleh sebagian manusia tidak dianggap sebagai
kebikan. Pada ayat ini ditegaskan bahwa kaum muslimin itu menjadi umat terbaik,
dan terpilih. Menurut sebagian ulama, yang dimaksud terbaik atau terpilih di
sini, utamanya di sisi Allah SWT.
Menurut Abu
Hurairah, yang dimaksud خَيْرَ أُمَّةٍ di sini adalah خير الناس للناس
sebaik-baik manusia untuk manusia. Jika ayat ini dikaitkan
dengan ayat sebelumnya (Qs.3:102-104), dapat difahami bahwa yang menjadi umat
terpilih itu adalah yang memenuhi kriteria iman,taqwa,membela Islam,berpegang teguh pada tali Allah,berjamaah,menjaga
kesatuan ukhuwah,mensyukuri ni’mat,menjauhi permusuhan,berda’wah, amar ma’ruf,
nahy munkar.
2.
أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ yang dilahirkan untuk manusia,
Perkataan أُخْرِجَتْ
asal artinya adalah dikeluarkan, menurut al-Jalalain adalah أُظْهِرَت ditampakkan,
ditampilkan, atau dizhahirkan لِلنَّاسِ untuk manusia. Sifat ini merupakan
syarat agar menjadi umat terbaik mesti tampil di hadapan manusia, eksistensinya
nampak. Eksistensi tersebut tentu saja dalam memberi manfaat untuk manusia
lain, bukan menjadi beban mereka. Rasulul saw. bersabda: أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى
اللَّهِ تَعَالَى أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ manusia yang paling dicintai Allah adalah yang paling banyak
memberi manfaat bagi yang lainnya.Hr.al-Thabarani.
Redaksi lainnya
berbunyi خير الناس أنفعهم للناس Manusia paling baik adalah yang paling banyak memberikan manfaat
bagi manusia lain.”Hr. al-Qadla`iy. Kehidupan manusia agar menjadi indah,
menyenangkan, dan sejahtera yang disebut الْمُفْلِحُون pada ayat 104,
membutuhkan manusia-manusia seperti itu. Menjadi apa pun, manusia mu`min akan
menjadi yang terbaik; apa pun peran dan fungsinya maka segala yang dilakukan
adalah hal-hal yang membuat orang lain, lingkungannya menjadi bahagia dan
sejahtera. Peranan أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ juga berma’na tampil menjadi pemimpin
dalam segala aspek kehidupan yang lebih baik.
3.
تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِmenyuruh kepada yang ma`ruf,
Keritera umat
terbaik berikutnya adalah memerintah yang ma’ruf.
Seperti dikemukakan pada bahasan yang lalu, peranan ini tidak mungkin bisa
dilakukan oleh orang yang tidak memeiliki kekuasaan untuk memerintah.
Oleh karena itu
menjadi manusia terbaik mesti memiliki kekuasaan untuk memerintah yang ma’ruf.
Semakin tinggi kekuasaannya untuk amar ma’rum semakin mulia kedudukannya
sebagai umat pilihan. Semakian sering beramar ma’ruf semakin tinggai derajatnya
bakal diraih. Perhatikan hadits berikut:
diriwayatkan dari Darrah binti Abi Lahab, seorang laki-laki
menghadap Rasul SAW tatkala berada di atas mimbar. Orang itu bertanya Wahai
Rasul manusia seperti apakah yang terbaik itu? Rasul bersabda: Manusia terbaik
adalah yang paling baik dalam membaca al-Qur`an, yang paling taqwa, paling
bagus amar ma’ruf, paling banyak nahy munkar, dan baik baik dalam menjalin
silaturahimnya. Hr. Ahmad Dan dalam riwayat lain ada tambahan
أفْقهُهُم فِي دين الله paling faham dalam bidang agama Allah SWT.:
4.
وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِdan mencegah dari yang munkar,
Keriteria manusia
terbaik berikutnya adalah nahy munkar, yaitu mencegah kemunkaran. Rasul SAW
bersabda: barangsiapa yang melihat kemunkaran hendaklah mengubahnya dengan
tangan. Jika tidak mampu maka hendaklah mengubahnya dengan lisan. Jika tidak
mampu hendaklah mengubahnya dengan sikap dalam hati. Namun yang terakhir ini
adalah orang yang paling lemah imannya. Hr.Msulim, Abu Daud, dan
al-Tirmidzi.
Berdasar hadits ini, orang yang paling tinggai derajat
imannya adalah yang bisa memberantas kemunkaran dengan tangan, alias
kekuasaannya. Orang yang tidak berdaya dalam memberantas kemunkaran, melainkan
hanya dalam hati, maka paling lemah imannya. Semakin berkuasa memberantas
kemunkaran, semakian tinggi dan kuat imannya. Semakian rendah kualitas dalam
memberantas kemunkaran maka semakin rendah pula nilai keimanannya. Dalam
riwayat lainnya, Rasul SAW bersabda:
Sesungguhnya manusia yang jika
melihat kemunkaran dan tidak mencegahnya, maka Allah akan menimpakan
siksaan-Nya secara keseluruhan. Hr. Ibn Abi Syaybah dan Ibn Majah.
5.
وَتُؤْمِنُونَ
بِاللَّهِ dan beriman kepada Allah.
Keriteria manusia
terbaik yang laing pokok adalah beriman kepada Allah. Yang dimaksud beriman
pada Allah tentu saja mencakup atas segala yang mesti diimani berdasar apa yang
diajarkan-Nya. Keimanan baru dianggap benar apabila mengimani seluruh apa yang
mesti diimani yaitu enam rukunnya. Dalam hadits diterangkan lebih rinci bahwa
rukun iman itu adalah enam. Rasul SAW bersabda:
iman adalah beriman pada Allah,
mala`ikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, pada hari akhir dan pada taqdir
baik dan buruknya. Hr. Ahmad.
Dengan demikian
kepercayaan seratus prosen hanyalah kepada yang enam yang disebutkan dalam
hadits ini. Tidak ada yang mesti dipercayai sepenuhnya selain pada apa yang
tersirat dan tersurat pada rukun iman tersebut. Inilah perinsip pertama dan
utama untuk mencapai derajat kebaikan. Itulah sebabnya ulama aqidah memberikan
definsi iman dengan التَّصْدِيْق بِمَا جَاء بهِ النَّبِي صلى الله عليه وسلم
membenarkan apa yang dibawa oleh nabi Muhammad SAW, yang diucapkan oleh lisan,
diyakini dalam hati serta diwujudkan dalam amal perbuatan.
6.
وَلَوْ آَمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ Sekiranya Ahli Kitab beriman,
tentulah itu lebih baik bagi mereka;
Jika ahl al-Kitab itu beriman sebagaimana mestinya
termasuk mengimani Rasul SAW dan ajaran yang dibawanya, maka mereka akan
menjadi umat terbaik pula. Tegasnya yahudi nashrani, atau pun bani Isrta`il
lainnya, saat ini tidak menjadi manusia terbaik lagi, kecuali yang telah
beriman kepada enam rukunnya, menjadi muslim yang menjalankan al-Qur`an dan
sunnah Rasul SAW. Jika berbagai ayat mengungkapkan bahwa Bani isra`il itu telah
diangkat derajatnya di atas bangsa lain, maka jelaslah yang beriman. Sejak
Rasul SAW diutus maka derajat manusia tidak dibedakan oleh ras atau keturunan
mana, melainkan ditentukan oleh derajat keimanan dan ketaqwaannya. Namun
sayang, kebanyakan mereka tidak mau beriman kepada Rasul SAW, maka tidak meraih
derajat terbaik, sebqai mana ditegaskan pada pengunci ayat.
7.
مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah
orang-orang yang fasik
Ada di antara ahl al-kitab yang beriman seperti di
jaman Rasul SAW antara lain Abd Allah bin Salam, Asad, Usaid bin Ka’ab. Namun
kebanyakan di antara mereka ada yang fasiq. Bahkan ada yang menjadi musuh Islam
serta memerangi kaum muslimin. Di antara ahl al-Kitab yang sangat memusuhi
Islam adalah Ka’b bin Asyraf, Huyay bin Akhthab.
4.
QS.
5 AYAT 67
’’Artinya’’
“Hai
Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika kamu
tidak kerjakan (apa yang diperintahkan itu berarti) kamu tidak menyampaikan
amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah
tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir”.
(Hai Rasul, sampaikanlah) semua (yang
diturunkan kepadamu dari Tuhanmu) dan janganlah kamu menyembunyikan
sesuatupun dari pada-Nya karena takut akan mendapatkan hal-hal yang tidak
diinginkan (Dan jika tidak kamu
lakukkan) tidak kamu sampaikan semua yang diturunkan kepadamu itu (berarti kamu tidak menyampaikan risalah-Nya). “Risalah” dengan tunggal
atau jamak, karena menyembunyikan sebagian berarti menyembunyikan semuanya (Dan Alloh memelihara kamu dari manusia) agar tidak sampai
membunuhmu. Pada mulanya Rasulullah SAW itu dikawal sampai turun ayat ini, lalu
sabdanya: “Pergilah karena sesungguhnya Alloh Memeliharaku’’ Riwayat Hakim (sesungguhnya Alloh tidak memberikan bimbingan kepada kaum yang kafir).
Dalam Tafsir Ibnu Katsir Menjelaskan
Pada awalnya Nabi merasa takut untuk menyampaikan
risalah kenabian. Namun karena ada dukungan lansung dari Allah maka keberanian
itu muncul. Dukungan dari Allah sebgai pihak pemberi wewenang menimbulkan
semangat dan etos dakwah nabi dalam menyampaikan risalah. Nabi tidak sendirian,
di belakangnya ada semangat “Agung”, ada pemberi motivasi yang sempurna yaitu
Allah SWT. Begitu pun dalam proses pembelajaran harus ada keberanian, tidak
ragu-ragu dalam menyampaikan materi. Sebab penyampaian materi sebagai pewarisan
nilai merupakan amanat agung yang harus diberikan.
Bukankah nabi
berpesan ; “yang hadir hendaknya menyampaikan kepada yang tidak hadir” .
Sehingga Allah berfirman sebagai penegasan dukungan keselamatan
وَاللَّهُ
يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ = Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia Imam
AL-Qurtubi memperjelas dalam konteks kerisalahan nabi sebagai rasul.
Beliau mengungkapkan sebab rasul tidak berani
menyampaikan risalah kenabian secara terang-terangan. Beliau menulis dalam
tafsirnya :
قيل:
معناه أظهر التبليغ; لأنه كان في أول الإسلام يخفيه خوفا من المشركين, ثم أمر
بإظهاره في هذه الآية,وأعلمه الله أنه يعصمه من الناس
Artinya:
“baligh” menurut Imam Al-Qurtubi lebih
menampakan pada proses penyampaian amanah kapada masyarakat. Karena di awal
penyebaran agama Islam nabi khawatir kepada orang-orang musyrik Makkah.
Kemudian Allah memerintahkan untuk menampakan kerisalahan tersebut dengan
diturunkannya ayat ini. Dan Allah memberitahu kepada nabi bahwa Allah akan
menjaga keselamatannya. Bahkan bila nabi tidak menyampaikan ayat,
menyembunyikan risalah dan amanat tersebut maka nabi dikatakan sebagai orang
yang “kadzab”, berdusta.
Kata “Baligh” dalam bahasa Arab atinya sampai,
mengenai sasaran, atau mencapai tujuan. Bila dikaitkan dengan qawl (ucapan),
kata balig berarti fasih, jelas maknanya, terang, tepat mengungkapkan apa yang
dikehendaki. Karena itu prinsip qaulan balighan dapat diterjemahkan sebgai
prinsip komunikasi yang efektif.
Komunikasi yang efektif dan efisien dapat diperoleh
bila memperhatikan pertama, bila dalam pembelajaran menyesuaikan pembicaranya
dengan sifat khalayak. Istilah Al-Quran “fii anfusihiim”, artinya penyampaian
dengan “bahasa” masyarakat setempat. Hal yang kedua agar komunikasi dalam
proses pembelajaran dapat diterima peserta didik manakala komunikator menyentuh
otak atau akal juga hatinya sekaligus. Tidak jarang di sela khotbahnya nabi
berhenti untuk bertanya atau memberi kesempatan yang hadir untuk bertanya,
terjadilah dialog. Khutbah nabi pendek tetapi padat penuh makna sehingga
menyentuh dalam setiap sanubari pendengarnya.
Menurut beberapa hadis yang diriwayatkan oleh beberapa
sahabat Nabi SAW, seperti Ibnu Abbas, Abu Said Al-Khudri, Al-Barra’ bin Azib,
Abu Hurairah, dan lainnya, ayat ini turun setelah haji Wada’ di Ghadir Khum
sehubungan dengan perintah memproklarnirkan kepemimpinan (wilayah) Ali bin Abi
Thalib a.s.
Firman Allah pada
ayat itu merupakan perintah Allah kepada Rasulullah agar melaksanakan tabligh,
yang sekaligus merupakan perintah kepada umatnya. Berkaitan dengan kewajiban
tabligh ini, terdapat beberapa hadits Rasulullah saw, antara lain:
بلّغواعنى ولو آية
Sampaikanlah apa-apa dari aku, walaupun hanya
satu ayat
BAB
III
PENUTUP
A. Keimpulan
Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu
dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang
lebih baik. Sesungguhnya Rabbmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa
yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetabui orang-orang yang
mendapat petunjuk.
Sungguh
Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah
mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang
membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan mereka, dan mengajarkan
kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum itu, mereka
adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia,
menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada
Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di
antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang
fasik.
“Hai
Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika kamu
tidak kerjakan (apa yang diperintahkan itu berarti) kamu tidak menyampaikan
amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah
tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir”.
DAFTAR
PUSTAKA
Sayyid, Quthb,2000 “Tafsir Fi Zhilalil Qur’an”
(Di bawah naungan Al-Qur’an Jilid 1) Jakarta, Gema Insani
Abdullah, 2004 ‘’tafsir ibnu
katsir’’ jilid 2 , Bogor: Pustaka imam Asy-syafi’i
[1] Sayyid, Quthb, “Tafsir Fi Zhilalil Qur’an” (Di
bawah naungan Al-Qur’an Jilid 1) Jakarta, Gema Insani, 2000, hal
49-50.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar